Berawal dari sakit kepala yang membawanya ke dokter untuk diperiksa, sekarang beragam hasil tes darah lab membuktikan bahwa dia positif Lupus SLE.

Dia shock, jelas, tapi tetap tenang dan luarbiasanya gak panik.

Dia bercerita bahwa tetangganya ada yang lupus juga, bahkan dia sempat jenguk disaat (waktu itu hanya beda 2 tahun usianya dengan dia) tetangganya itu lupa ingatan, membaca sudah sulit, masih bisa berbicara saja sudah syukur. Down banget kondisinya sebelum akhirnya meninggal.

Ibunya lebih shock, tapi masih kalem. Bapaknya, cuek aja dan suruh dia minum kangen water dibandingkan pergi ke dokter. hahaha keluarga yang lucu.

Lupus adalah penyakit seribu wajah, dia sadar akan hal itu. Rasa sakit yang ia alami belum tentu sama dengan yang lain. Ketika dia bergabung dengan Yayasan Lupus Indonesia di Facebook, kebanyakan mengalami nyeri sendi, bengkak-bengkak, sakit ginjal, dll. Sedangkan dia cuma anemia saja, tidak lebih.

Tetapi, kalau kondisi tubuhnya lelah, kecapean, strees, maka dia gak terlalu beda dengan odapus (sebutan penderita lupus) lainnya. Nyeri sendi juga hahaha.

Karena itulah, dia gak bisa banyak beraktivitas yang melelahkan. Walau kadang menyebalkan dengan keterbatasan kegiatannya itu, tapi itu semua untuk kebaikannya juga.

Dia seperti berjalan di atas lantai yang licin. Sekali waktu bisa terpeleset dan jatuh. Tidak seperti penyakit lain yang harus dilupakan biar gak kepikiran, dia harus selalu ingat kalau dia sakit, jadi inget untuk minum obat dan menjaga diri tetap senang.

Suatu saat dia bilang ke gw gini, “Lupus ini kan penyakit yang gak menular dan gak ditularkan, enggak juga dari keturunan, jadi aku ini manusia pilihan.” Lalu dia lanjutkan, “Lupus membuat aku tetap hidup senang, nyaman, santai. Enak banget kan punya penyakit yang kayak gini? hahaha”

Satu hal yang memang sedikit melegakan adalah dia gak kena kanker. Lupus ada kesempatan untuk remisi alias gak aktif penyakitnya dalam suatu periode waktu. Seperti penyakit lainnya saja yang sekarang sembuh, namun besoknya bisa sakit lagi. Bedanya, kalau Lupus bisa berubah-berubah serangan sakitnya, tergantung mood si monster.

Oh iya, rangkaian tes darah yang dia jalani adalah tes Ds DNA, Tes Ana, lalu Tes tepi darah dan Tes Ana Profile. Semuanya positif.

Tes Ds DNA hasilnya positif, namun ini bisa berarti false positif, akhirnya untuk memastikan dia ambil tes ANA. Tes ANA positif, namun beberapa minggu ke depannya dia seperti orang sehat lagi, padahal dia baru transfusi darah 2 bulan yang lalu. Dokternya ragu apakah dia SLE atau anemia akut saja. Jadi direkomendasikan untuk ambil tes tepi darah untuk melihat penampakan sel darahnya seperti apa.

Nah, di tes tepi darah ini, sel darahnya normal bentuk dan warnanya, namun sel darah putihnya banyak ditemuin limfosit atipik. Syukurnya gak ditemuin sel Blast, kalau ada sel Blast bisa diindikasikan leukimia. Beda tipis banget yaaa serem.

Begitulah cerita si Dia, semoga bisa diambil hikmahnya bagi yang lain, untuk selalu menjaga kesehatan dan gaya hidup kita. Gak ada yang pengen sakit, termasuk dia yang gaya hidupnya juga normal aja gak aneh.

Dengarkan tubuhmu, catet apa aja yang aneh biar dokter bisa diagnosa dengan maksimal.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s